SOLO BACKPAKER
SOLO BACKPACKER
Setiap orang mempunyai mimpi. Entah itu mimpi kecil atau besar. Seseorang itu akan memperjuangkan bagaimana pun caranya. Tentunya dengan cara yang baik. Setiap kita memiliki mimpi yang berbeda. Mungkin hanya satu persamaannya. Ingin segera diwujudkan.
Dan ini mimpi kecil saya. Ingin melakukan perjalanan panjang dengan cara solo backpacker. Kota ke kota, daerah ke daerah menggunakan alat transportasi umum. Tentu dengan biaya secukupnya. Tidak terlalu mewah, tidak juga terlalu menggembel. Entah lah apa yang akan terjadi.
Ingin menikmati keindahan dan keragaman Indonesia dengan sederhana. Sesederhana seorang hamba yang diciptakan pemilik semesta. Ingin menemukan dan menyaksikan kejutan-kejutan yang lebih istimewa dariNya.
Surabaya, Lombok, NTT adalah impian kecil saya sedari dulu. Kira-kira semasa tsanawiyah saya mulai menyukai petualangan atau berpergian jauh. Hampir setiap bulan jika liburan saya selalu menyempatkan untuk berkunjung ke tempat wisata.
Dengan uang jajan yang rela di tabung setiap harinya. Hanya untuk bekal berpergian. Itu pun jika ada rencana berpetualang atau naik gunung. Saya itu lumayan boros, tapi jika ada rencana semuanya pasti terlaksana dengan persiapan yang matang. Meski harus mengirit uang jajan. Maklum keuangan santri. Hehe.
Dan ketika sudah meninjak semasa aliyah, kesukaan saya terhadap petualangan tidak pernah hilang. Saya selalu membayangkan, bagai mana sih rasanya menaiki kapal feri yang besar. Melintasi pulau ke pulau. Berkereta ke tempat paling jauh dari rumah. Berada di kota sebrang dengan orang-orang tidak di kenal. Oh, iya. Dalam benak saya, kapal feri yang besar itu berupa kapal titanic. Keren.
Ingin rasanya mencoba tapi takut. Takut inilah, takut itulah. Mental belum terlalu terbentuk. Waktu pun tidak terlalu mendukung. Apalagi orang tua yang penuh kehawatiran. Mau tidak mau saya harus bersahabat dengan keinginan yang belum waktunya itu.
Lambat laun mimpi itu melupa. Mungkin karena kesibukan yang baru saja menjadi mahasiswa. Ambisi itu pun saya simpan baik-baik. Biarkan alam semesta yang berencana kedepannya. Tapi kesukaan saya terhadap naik gunung tidak juga terbunuh. Sesekali selalu menyempatkan jika libur semester. Lumayan cukup terobati.
Setiap kita memiliki hobi. Apa pun hobinya membuat kita senang. Hobi adalah sebagian dari mencari jati diri. Tidak akan pernah mati.
Tidak ku duga dan terasa. Tiga tahun sudah saya lewati. Bersahabat, berjuang, dan menerima. Terhadap waktu, beban, ketidak inginan dan kenyataan. Ternyata Tuhan maha pembentuk mental. Sehingga awalnya saya berpikir “tidak mungkin bisa” ia merubahnya menjadi “pasti bisa”.
Pada tahap ini saya hanya menunggu wisuda. Lumayan cukup lama. Lama akan tidak bersibuk dan terkekang rutinitas. Dan rupanya mimpi sejak dulu yang sempat saya simpan tiba-tiba datang dan berbisik sedikit berteriak: “Woiiiiii, kenapa tidak sekarang saja kau buktikan”.
…………………..
SURABAYA.
Hari ini, selasa. Pada tanggal 13 Agustus 2019. Saya mulai melakukan perjalanan menuju Surabaya. Awal menumpangi kereta api dari stasiun Kiaracondong dan di akhiri stasiun Gubeng. Kurang lebih 16 jam jarak yang akan ditempuh selama perjalanan. Entah sepegal dan seboring apa selama itu saya duduk di bangku penumpang. Mungkin sesekali membaca buku dan menulis puisi. Hanya itu teman saya yang di ajak selama di perjalanan.
Tidak terlalu banyak tahu tentang kota Surabaya. Entah apa dan rencana apa saja yang akan saya lakukan di kota sana. Atau tempat wisata apa saja yang akan saya kunjungi, entahlah. Hanya saja ada satu mimpi kecil yang sudah lama tertidur. “ingin berfoto bersampingan dengan patung Sura Baya.
Suro lan Boyo adalah sebuah patung yang merupakan lambang kota Surabaya. Patung ini berada di dekat kebun binatang Surabaya. Patung ini terdiri atas dua hewan yang menjadi inspirasi nama kota Surabaya. Ikan sura (hiu) dan baya (buaya).
Menurut cerita rakyat: dahulu di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu dan dengan buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama ganas, dan sama-sama rakus. Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun kalah. Akhirnya mereka mengadakan kesepakatan untuk mencegah perkelahian dengan membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Mereka pun menyetujui nya,
Tetapi pada suatu waktu diantara mereka ada yang melanggar kesepakatan tersebut. Beradu ego dan emosi hingga mereka pun berkelahi kembali dengan sengit. Namun perkelahian ini sangat dahsyat dan ganas.
Pertarungan mereka sangat berkesan dimata masyarakat. Kejadian itu selalu di sangkut pautkan dengan peristiwa ini. sehingga di buat lambing Kota Surabaya. Yaitu patung hiu dan Buaya.
Kembali lagi pada mimpi. Mimpi kecilku. Mungkin dianggao tidak penting. Namun bagaimana kita busa mewujudkan mimpi besar, jika mimpi kecil pun sering kita abaikan.
DUDUK LAMA
Ternyata, duduk berdiam diri selama berjam-jam begitu sangat melelahkan. Selain pegal dan bosan, hal yang di lakukan apa pun tidak nyaman. Setiap perjalanan panjang tidak ada yang sangat menyenangkan. Di dalamnya ada begitu banyak lika liku dan keinginan segeraan. Padahal, setiap tujuan ada waktu tiba. Hanya saja dari kita sangat jarang yang bersahabat dengan sabar menunggu.
Sama halnya saat saya mulai mencintai seseorang. Sekian lama mendekati, tetapi kepastian tidak pernah kunjung diberi. Pegal hati bukan lagi soal kepasrahan diri. Kesal telah memuncak pada ujung kesabaran. Ternyata kemesraan tidak se bahagia orang-orang yang saling memiliki perasaan. Andai saja aku memiliki sabar paling besar. Mungkin harapan itu akan berubah debar. Sayangnya perjuangan itu memilih kalah. Sebab hatiku yang terlanjur patah.
Tapi… tidak dengan perjalanan kali ini. perjalanan tentang menggapai mimpi kecil. Tidak akan pernah menyerah meski lelah. tidak akan mengalah meski susah. Tidak akan pernah pulang hingga mimpi itu aku gapai.
Pukul Sembilan malam saya tiba di stasium wonokromo. Yang awal rencana saya akan turun di stasiun gubeng, tidak jadi, dikarenakan malam itu saya akan menginap di tempat kosan kakak kelas sewatu masih mondok di pesantren. Selain itu agar uang tidak terlalu banyak keluar untuk biaya penginapan. Inesiatif yang minimalis, bukan? Hehe
Dengan mata masih mengantuk saya harus segera siap-siap menurunkan backpack yang di simpan di atas penyimpanan barang. Kereta mulai berhenti, orang-orang mulai mengantri untuk turun. Saya pun dengan gontai melangkahkan kaki untuk menuju pintu keluar stasiun.
“kak saya sudah sampai stasiun wonokromo” satu pesan saya kirimkan untuk mengabari teman saya yang tidak jauh dari stasiun wonokromo. Sialnya dia tidak bisa menjemput dikarenakan belum pulang kerja. Tidak lama pun mengirimkan lokasi dimana tempat ia tinggal. Tidak menunggu lama saya pun memesan ojek online.
Dengan sedikit badan lunglai saya di bawa ojek online menuju tempat tinggal teman saya. Tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu tiga puluh menit dari stasiun wonokromo ke tempat tinggal teman saya. Namun dikarenakan badan ini yang sudah lama duduk diam selama 16 jam, rasa ingin cepat sampai dan rebahan pun terus meminta. Sekali dua kali saya meminta mamang ojek untuk cepat melaju agar cepat sampai.
“ini sudah sampai, mas” mamang ojek itu pun memberi tahu
“oh ya mas, terima kasih”
Setelah membayarnya, saya langsung menelepon teman saya itu. ternyata tempat tinggalnya ada di depan saya. Saya langsung melambaikan tangan lalu menghampirinya untuk bersalaman.
“eh, kak. Apa kabar?” sapa saya
“allhamdulillah baik”
Saya langsung di persilahkan masuk ke tempat tinggalnya. Kosan yang lumayan nyaman hanya untuk memejamkan mata. Hanya berukuran kamar seperti pada umumya. Namun tidak apa, toh saya hanya menumpang tidur.
Malam itu kami tidak terlalu banyak berbincang. Karena saya pun terlalu lelah sehingga ke dua mata cepat sekali terpejam. Malam itu untuk pertama kalinya saya tertidur di daerah jawa timur. Tepatnya di Surabaya, salah satu kota impian kecil saya yang ingin di kunjungi.
……….
Selamat pagi Surabaya, gumam saya dalam hati ketika hendak bangun tidur. Sepagi itu teman saya sudah selesai mandi, sedangkan saya masih mengumpulkan nyawa untuk berdiri.
“mau kemana kak pagi-pagi udah rapih” Tanya saya keheranan
“kerjalah” timpal dia sembari membetulkan kerah kemejanya
“oh ya lupa” hehe
“rencana hari ini mau kemana”?
“mau ke patung Surabaya kak, mau foto disana hehe”.
“mandi gih cepat, kita pergi bareng sekalian saya berangkat kerja”
“ok kak siap” saya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di Surabaya saya tidak terlalu banyak berencana untuk pergi ke wisata. Sebab Surabaya bukanlah kaya akan keindahan alamnya. Hanya itu, saya ingin berfoto tepat di depan patung sura baya. Setelah selesai membersihkan diri, saya sempat sarapan terlebih dahulu bersama teman saya itu. kami sempat berbincang tentang pengalaman menjadi santri ketika 5 tahun kebelakang. Banyak ceriota lucu dan mengesankan. Ah begitulah cerita pesantren memang tidak aka nada habisnya.
Setelah sarapan saya di antarkan tepat di depan patung Surabaya iru. Teman saya langsung pergi meninggallan saya menuju kantor kerjanya. Sebelum pergi ia sempat meemberi pesan untuk pulang sekitar jam 10 malam. Dikarenakan kunci kosannya ia yang bawa, dan jam sepuluh adalah waktunya ia pulang. Saya tidak banyak bicara hanya ia ia saja. malu juga jika saya meminta kuncinya yang saya pegang agar bisa pulang lebih awal.
Ketika itu mata saya berbinar-binar tidak percaya saya berada di depan patung yang megah itu. beberapa kali saya mengabadikannya lewat camera. Tidak henti saya bergumam tidak percaya satu mimpi kecil saya terwujud.
Tentunya disana tidak terlalu ramai orang-orang yang berkunjung. Mungkin hanya saya aja yang terlihat norak. Kebetulan ada dua orang yang sedang berfoto, dengan tidak malunya saya pun meminta untuk memotokan di depan patung itu. ya bagaimana lagi, jika berselfi sendiri kegagahan patung sura baya nya tidak terlihat kokoh. Dengan santunya saya meminta pada orang itu. lalu beberapa gaya saya mulai dio foto.
Setelah selesai berfoto sendirian. Saya meminta untuk berfoto barengan. Untuk mengabadikan moment perkenalan singkat. Kita sempat berkenalan dan ngonrol basa basi. Tapi saya lupa dengan namanya. Rupanya basa basi sudah menjadi hal yang basi. Tapi jika pertemuan tanpa basa basi pun akan terlihat basi kesannya. Oleh sebab itu basa basi itu tercipta.
Mentari lebih bersinar di atas cakrawala. Kota Surabaya di kenal dengan cuaca panas. Saya tidak terlalu betah. Tapi sayang juga jika hanya berkunjung ke patung saja.
Menurut informasi google di sura baya pun terkenal dengan monumen kapal selam. Tidak lama saya memesan ojek online untuk mengantarkan.
Monument kapal selam adalah sebuah mesium kapal selam yang terdapat di embong kaliasin, ganteng. Surabaya. Terletak di pusat kota, monument ini seenarnya merupakan kapal selam KRI pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952.
Siang itu saya habiskan untuk berfoto dan melihat-lihat awak kapal selam secara langsung. Ukurannya cukup panjang. Dari pintu depan hingga belakang saya menjamahnya.
Setelah itu ada pertunjukan film kapal selam pada jaman dahulu. Saya sempat menontonnya. Tapi sedikit pun tidak mengerti karena berbahasa inggris dan gambarnya pun terlihat runyam. Ya begitulah pada jaman dahulu.
Tidak terlalu lama saya berada di monument kapal selam itu. waktu pun sudah mulai sore. Saya bingung harus kemana. Ingin rasanya cepat-cepat tanggal 16. Di karenakan pemberangkatan kapal legundi menuju Lombok pada hari kamis. Berarti dua hari dari sekarang. Bingung juga mau apa dan kemana selama di Surabaya.
Namun pada sore itu saya memutuskan untuk menonton bioskop saja. tidak dimana-mana saya selalu menyempatkan untuk menonton bioskop. Entah kenapa selain hobi menonton di bioskop sensainya lebih ngena. Alur cerita dan dialognya pun lebih enak di tonton.
Pada jam 7 malam saya baru keluar dari gedung bioskop. Malam itu saya bingung harus kemana, sedangkan untuk pulang pun kosan teman saya ditututp karena koncinya ia yang pegang. Tidak enak juga jika saya meminta ia untuk pulang lebih cepat. Namun sialnya dia mengabari katanya tidak akan pulang. Sebab dia mendadak tubuhnya mengigil karena demam. Saya hanya berucap tidak apa-apa semoga cepat sembuh. Ia bagaimana lagi, saya tidak bisa memaksa.
Bermalam di Surabaya ternyata tidak se menyenangkan malam kemarin. Ya malam itu saya memutuskan tidur di masjid. Bukan, bukan karena mata ini sulit terpejam hanya saja nyamuk bergelombolan menyerang tubuh dan kuping saya. Saya pun jadi kesulitan untuk tidur.
Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur. Sudah beberapa kali mencoba tidak bisa di karena kan nyamuk yang bergantian menyerang kuping dan kaki saya. Saya di buat geram oleh nyamuk itu. andai saja tidak bergelombolan dan kecil. Sudah saya pukul sehabis-habisnya.
………………
Adzan subuh mulai berkumandang. Pajar pun pelan-pelan berlarian dari arah timur ke atas cakrawala. Sepagi itu saya melangkahkan kaki dengan mata yang kurang tidur menuju kosan teman saya. Karena ketika malamnya dia mengabari bahwa pagi hari ia akan pulang.
Hanya beberapa menit saya sudah sampai di tempat kosan teman saya. Sialnya dia belum juga tiba, untung nya di depan kosan nya itu banyak warung makan. Saya menunggunya di tempat makan itu sambil makan pagi.
Tidak menunggu lama teman saya pun tidak. Hanya beberapa kali kali berbincang basa basi. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke pelabuhan perak di Surabaya. Padahal menurut informasi google pemberangkatan kapal feri itu esok harinya. Namun tidak tahu kenapa hari itu hati saya bersikukuh ingin pergi ke pelabuhan perak. Niatnya hanya ingitahu terlebih dahulu dimana tempatnya dan bagaimana keadaannya. Dan untuk menanyakan beberapa informasi untuk memesan tiket kafal feri itu.
Setelah facking saya langsung berpamitan kepada teman saya itu yang terlihat sedikit luse. Mungkin karena demam nya masih terasa pnas. Sehingga badannya oun ikut poegal-pegal.
…………………..
Jika kita yakin, atas segala mimpi yang kita ingin. Satu persatu mimpi itu akan terwujud. Berucap syukur serta bersujud pada Tuhan yang telah mengijinkan segala rencana hambaNya. Allhamdulillah kau telah memberi kekuatan ketika diri ini lelah. terima kasih.
Mimpi kecil pertama aku terwujud. Berfoto dengan backround patung Surabaya. Hanya itu. selebihnya Tuhan memberi kenikmatan yang lain bisa berkeliling Surabaya. Meskipun satu hari dan beberapa tempat wisata. Mungkin lain waktu aku pun akan kembali. Silaturahmi ke kota pahlawan ini.
Surabaya, terima kasih. Sampai jumpa.
Dan kedua mimpi kecil saya ingin sekali berlayar menaiki kapal feri yang besar. Mulanya mimpi ini hadir ketika saya menonton film titanic. Sudah lama bukan? Haha sebuah mimpi kecil yang tidak mungkin, pikirku. Tapi tidak ada yang tidak mungkin selama kita yakin.
Untuk keberpakalinya saya di antarkan oleh ojek online. Dan setelah tiba di pelabuhan perak. Mata saya baru pertama kalinya melihat suasana pelabuhan. Saya melihat sekeliling lingkungan itu seperti orang kebingungan. Di beberapa tempat ada yang sedang jualan nasi yang hanya 10 ribu per bungkus. Saya hanya senyum-senyum sendiri, perasaan masih tidak menyangkan bisa menginjakan kaki di kota orang.
“mas, kalau mau menanyakan jadwal pemberangkatan kapal kemana ya?” Tanya saya pada orang yang sedang berjualan nasi itu.
“oh kesana, mas lurus, setelah itu belok kanan” terangnya.
“siap mas, terma kasih”
Saya langsung menuju tempat yang ditujukan dengan menggendong backpack yang mulai memberikan pegal pada pundak. Sesekali saya membetulkan agar sedikit enak di gendong.
Setelah sampai di tempat informasi saya di persilakan duduk lalu di beri beberapa pertanyaan:
“ada yang bisa saya bantu mas?” Tanya bapak yang sedang duduk di depan saya
“saya mau beli tiket kapal legundi ke Lombok mas, untuk besok”
“wah kalau besok kapal legundi tujuan ke Lombok tidak ada, mas. Kenapa tidak sekarang saja?”
Saya tidak menyangka bahwa pemberangkatan kapal legundi berangkat hari ini. yang saya tahu kapal itu akan berangkat pada esok harinya.
“bukannya menurut informasi google besok mas” Tanya saya tidak percaya
“untuk pemberangkatan kapal legundi ke Lombok tidak pasti mas, dan tidak ada jadwal yang akurat di informaskikan lewat internet” terangnya bapak-bapak itu
“ya sudah saya beli yang sekarang aja mas” saya tersenyum lebar bahagia
“ok ktp nya bisa saya lihat. Dan biyanya 84k sudah termasuk pajak dan lain-lain”
Saya langsung memberikan ktp dan uang yang seharusnya di bayar. Setelah proses pemberlian tiket saya langsung ke luar dan menuju masjid untuk packing. Karena jam yang pemberangkatannya p[un masih lama. Sekitar jam 2 siang. Sesekali saya foto tiket kapal legundi itu. bangga dan senang diri ini akan menuju Lombok.
Dari pelabuhan perak menuju pelabuhan lembar memakan waktu cukup lama. Kurang lebih 24 jam. Beberapa waktu mencoba merenung kembali pada mimpi kecilku dulu, mimpi kecil yang tidak pernah terbayang akan terwujud. Mimpi yang hadir karena menonton film. Mimpi yang banyak di tertawakan teman. Mimpi yang hanya menjadi teman angan-angan. Kini hari ini mimpi kecil keduaku terwujud. Alhamdulillah.
…..
Selama di perjalanan aku benar-benar tidak ada rencana matang. Untuk apa aku ke Lombok, dengan siapa, dan akan apa disana. Benar0-benar tidak ada tujuan dan teman. Benar-benar sendirian. Tapi mungkin beginilah kejutan Tuhan yang maha indah itu. aku di pertemukan dengan backpacker lainnya. Tanpa berpikir aku bergabung dengan mereka. Sungguh hal yang tidak kuduga. Semuanya begitu akrab tanpa perantara. Sekali lagi terima kasih Tuhan yang pemilik segala kasih.
Selama 24 jam itu cukup melelahkan untuk seorang diri yang baru pertama menaiki kapal feri.. inginnya sih sebesar titanic hehe. Beberapa kali di ombang ambing ke kiri dank e kanan. Cukup sering aku merasa mual dan pusing. Berharap ingin segera usai dan rebahan.
Pukul lima pagi lebih dua puluh menit mataku mulai membuka jendelanya. Laun melambat jingga merebahkan sayapnya. Seketika itu bibirku pun melebar bahagia. Semesta mmenyuguhkan keindahan lebih dari biasanya. Adakah ucapan yang lebih istimewa selain terima kasih? ☺
Selepasku bersujud dari kewajiban. Ingin rasanya menikmati lebih lama kedatangan sang pajar. Kaki melangkahkan ke daratan tinggi kapal feri seketika itu matahari tersenyum lebar dari arah timur. Apalagi rasanya selain merasakan syukur.
Sepagi itu aku sedang menikmati indahnya pagi. Sesekali mengabadikan lewat camera. Dan tidak lupa ku abadikan pula lewat puisi.
INDAH PADA WAKTUNYA.
Mungkin beginilah kiranya kau kan ku ajak menikmati indahnya mentari di atas kafal feri. Berbincang tentang kesenangan menimmati hobi, bertukar cerita seperih apa ketika di tinggal pergi oleh doi.
Rupanya tidak semua perjalanan hidup harus di temani kekasih. Kadang ia berjalan sendirian dan harus mencari teman dan kawan. Berjumpa dengan orang-orang tidak di kenal, bertegur sapa agar memperbanyak kawan. Mungkin belum waktunya bertemu dengan seseorang yang ingin menemani perasaan.
Mulanya matahati itu enggan menampakan keindahannya. Pula terhalang oleh awan hitam. Aku menunggu menit demi detik waktunya tiba. Hingga lambat laun sinarnya mulai berdiri ke persinggahan. Menampakan segala megahnya keindahan.
Masyaallah ucapku. Jika memang sudah waktunya tiba. Hal yang di tunggi itu akan terlihat sangat indah nan mewah , lebih yang ku kira. Tidak henti aky emngucapkan syukur.
…..
Badan mulai merasakan dinginnya angina yang berkelebatan di atas feri itu. aku sudah tidak kuat dan merasa pusing. Badanku kembali ku rebahkan di atas kasur kecil yang sudah di sediakan sebelumnya. Kasur kecil itu bisa kita pinjam dengan syarat ktp kita di tahannya. Hanya untu jaminan saja. pagi menuju siang itu ku habiska waktunya dengan tidur. Sebab badan ini perlu istirahat mata ini perlu terpejam lebih lama untuk dapat melanjutkan perjalanan setiba nanti di Lombok.
TIBA DI LOMBOK
Lombok adalah wilayah yang di kenal dengan seribu masjid serta pantai-pantainya yang indah nan bersih. Dan Lombok adalah mimpi kecil ke dua saya setelah Surabaya yang berhasil saya kunjungi. Sebetulnya tidak begitu banyak keinginan untuk menjamah wilayah Lombok. Namun kejutan Tuhan memang Maha meriah. Di Lombok saya di temukan dengan teman-teman yang baik dan juga menemani saya untuk bisa menjelajah wisatanya. Dan juga warga local baik pula yang membantu saya untuk bisa menuju Nusa tengga Timur. Ia mengarahkan dan memberi tahu saya untuk bisa menuju ke sana.
Di karena kesulitan bercerita untuk bisa aku tulis dalam cerita ini. aku putuskan untuk berhenti di sini ceritanya memang keindahan semesta dan asiknya cerita yang di berikan Tuhan itu tidak bisa di tuliskan dengan kata-kata. Dari maka itu aku meminta maaf untuk tidak bisa melanjutkan cerita ini. namun jika kalian ingin melihat gambar dan video dari indahnya alam Lombok dan ntt bisa kunjungi instagram dan youtub saya. Sekian dan terima kasih.
( Tulisan dan ceritanya masih acak-acakan haha)
Kuy kepoin Instagram nya : @jalansendirians
YouTube : cari aja Jalan sendirian
Komentar
Posting Komentar