TAKUT MENIKAH?
Ternyata pernikahan tidak semenakutkan yang kita pikirkan, karena yang hidup dalam pikiran adalah pikiran itu sendiri, dan kenyataan tidak ikut serta. Dulu saya pernah takut menikah, bahkan untuk jatuh cinta pun saya tidak berani. Tidak tahu sumbernya darimana tapi yang ada di pikiran saya waktu itu bahwa pernikahan adalah salah satu benalu dalam tenangnya hidup. Bagaimana tidak, yang awalnya kita bebas mau ngapain aja, mau tidak mau kebebasan itu hilang oleh peraturan-peraturan antar perasaan.
Dan menikah adalah masalah. Sebelum menikah mungkin masalah hanya datang karena telat kasih kabar tapi setelah menikah masalah beruntun banyak. Perselingkuhan, kekerasan (KDRT), tidak sependapat antara kedua keluarga, kesulitan ekonomi, dan masalah perasaan lainnya. Apalagi kalau udah punya anak. Masalah akan terus dan terus berganti tiap pekannya. Sampai sini apakah kamu setuju bahwa menikah adalah sumber dari banyaknya masalah? kalau jawaban kamu "iya", berarti kamu belum menikah.
Pernikahan saya baru menginjak kurang lebih dua tahun, belum lama memang dibandingkan kamu yang sudah bertahun-tahun lamanya juga menghadapi masalah-masalah yang terus berganti. Tapi di tulisan ini saya mau mengakui bahwa ternyata menikah itu tidak perlu takut, sebab pernikahan bukan untuk orang-orang penakut juga pengecut, dan saya bukan orang tersebut.
Ketakutan saya waktu itu dikalahkan oleh cinta pada seorang wanita kembang desa yang berasal dari kampung selatan. Wajahnya lugu nan menawan, senyumnya khas menenangkan perasaan, dari banyaknya wanita yang ku lirik, hanya dia yang paling cantik di pedesaan. Sejak itu kuberanikan diri untuk melamar dihadapan kedua orang tuanya, tidak butuh waktu lama, hanya sepuluh hari dari tanggalnya lamaran, kita sudah duduk di atas pelaminan.
Hari kamis 16 maret 2023 saya resmi menikah dengan kembang desa itu. Naanya Dera pusvita dewi, umurnya tujuh tahun lebih muda dari saya. ah lagi ga mood nulus nanti di lanjut
Komentar
Posting Komentar